
Kajian Tafsir Surah Yusuf Ayat 18–22: “Kesabaran Nabi Ya’qub dan Perjalanan Nabi Yusuf Menuju Kemuliaan”
Pada hari ini, Selasa, 20 Oktober 2026 telah dilaksanakan kegiatan Halaqah Kajian Tafsir bersama Bapak Dr. Dzikri Nirwana, M.Ag. dengan pembahasan lanjutan Surah Yusuf mulai dari ayat 18 dan sampai ayat 22 yang bersumber dari kitab Ṣafwat al-Tafāsīr karya Syekh al-‘Allāmah Prof. Dr. ‘Ali aṣ-Ṣābūnī.
Dalam kajian tersebut dibahas mengenai kisah nabi Yusuf tentang peristiwa kembalinya saudara-saudara Yusuf kepada ayahnya nabi Yaqub sambil menangis dan membawa baju nabi Yusuf yang dilumuri dengan darah palsu (darah domba) sebagai alibi bohong untuk meyakinkan ayah mereka bahwa Yusuf telah diterkam serigala. Menghadapi kepalsuan tersebut, Nabi Ya’qub dengan ketenangan jiwa yang diilhami kesabaran yang indah menyatakan bahwa jiwa mereka telah mensosialisasikan suatu perbuatan buruk sehingga menganggapnya sebagai hal yang biasa, sembari tetap memohon pertolongan hanya kepada Allah Kemudian datanglah sekelompok musafir (kafilah) yang kehausan, lalu mengutus seorang pengambil air yang menurunkan timbannya ke dalam sumur tempat Yusuf berada. Ketika melihat keindahan dan keelokan Nabi Yusuf, sang pengambil air berseru gembira, “Wahai kabar gembira, ini adalah seorang anak muda!” Para musafir kemudian menyembunyikan keberadaannya sebagai barang dagangan hingga akhirnya mereka menjual Yusuf di Mesir dengan harga yang murah karena mereka tidak menyukai dan tidak mengharapkan keberadaannya, serta takut ketahuan bahwa Yusuf adalah seorang budak yang lari.Lalu nabi Yusuf dibeli seorang pembesar di Mesir yang kemudian berpesan kepada istrinya agar memuliakan tempat tinggal Yusuf karena ia berharap Yusuf dapat bermanfaat bagi mereka atau dijadikan sebagai anak angkat.
Melalui peristiwa tersebut, Allah menegaskan bagaimana Dia memberikan kedudukan yang kokoh kepada Yusuf di bumi Mesir, mengajarkannya takwil mimpi, serta menyempurnakan nikmat-Nya. Ketika Yusuf telah mencapai usia dewasa, Allah menganugerahkannya hikmah dan ilmu, sebagaimana balasan bagi orang-orang yang berbuat baik.
Setelah membahas kisah nabi Yusuf kemudian pemateri melanjutkan dengan balaghah dan hikmah, setelah itu pemateri membahas tanbih mengenai posisi para nabi (termasuk kisah saudara-saudara Yusuf yang sering diidentifikasi sebagian orang sebagai nabi/asbath). Para muhaqqiqin menegaskan bahwa para nabi terjaga dari perbuatan-perbuatan keji seperti berencana melakukan pembunuhan, kedustaan besar, dan memasukkan Yusuf ke dalam sumur sebelum mereka diangkat menjadi nabi, karena dosa-dosa besar semacam itu menafikan sifat ‘ishmah para nabi.
Berdasarkan pembahasan tersebut, dapat dipahami bahwa perjalanan hidup Nabi Yusuf a.s. penuh dengan ujian berat yang dilalui dengan kesabaran, penjagaan diri, serta keyakinan penuh bahwa segala ketentuan Allah mengandung hikmah yang agung bagi hamba-Nya yang beriman dan berbuat kebaikan.
Dengan demikian, kegiatan Halaqah Kajian Tafsir ini diharapkan dapat menambah pemahaman peserta terhadap kandungan lanjutan Surah Yusuf, serta dapat mengambil nilai-nilai keteladanan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.Demikian berita acara ini dibuat untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.



