
Kajian Keagamaan: Pentingnya Keikhlasan dan Amal Saleh dalam Kehidupan Seorang Mukmin
Program Pembinaan Keagamaan Ulama (PKU) UIN Antasari Banjarmasin kembali melaksanakan kegiatan halaqah kitab dengan mengkaji Sirāj al-Ṭālibīn jilid 2 halaman 401. Kajian ini dibawakan oleh M. Aunurrahman dengan pemaparan dan pendampingan Ustadz Bashori, M.Ag.
Dalam kajian tersebut menjelaskan bahwa amal saleh yang dilakukan oleh orang beriman memiliki nilai yang besar di sisi Allah Swt. apabila dilakukan dengan ikhlas dan sesuai dengan keridaan-Nya. Allah menjanjikan surga kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan. Oleh karena itu, setiap manusia hendaknya memanfaatkan waktu dan kesempatan hidupnya untuk melakukan berbagai kebaikan serta tidak menyia-nyiakannya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.
Selain itu, manusia hendaknya menyadari bahwa amal yang dilakukannya pada hakikatnya tidak sebanding dengan besarnya nikmat dan karunia Allah yang telah diberikan kepadanya. Oleh sebab itu, seseorang tidak sepatutnya merasa bangga, sombong, atau menganggap amalnya sebagai sesuatu yang sangat besar.
Sebaliknya, ia harus bersikap rendah hati dan menyadari bahwa kemampuan untuk berbuat baik merupakan bagian dari karunia Allah Swt. yang patut disyukuri.Dijelaskan juga pentingnya menjaga niat dan cara dalam melakukan amal. Seseorang tidak cukup hanya memperbanyak amal, tetapi harus memastikan bahwa amal tersebut dilakukan dengan ikhlas, sesuai dengan ajaran agama, dan tidak bertentangan dengan keridaan Allah. Apabila seseorang melakukan kebaikan hanya untuk mendapatkan pujian atau pengakuan dari manusia, ia perlu memperbaiki niatnya agar terhindar dari sifat riya dan ujub yang dapat merusak nilai amal.
Dengan demikian, inti dari bahasan dalam kajian tersebut adalah bahwa seorang mukmin hendaknya senantiasa memperbanyak amal saleh, menjaga keikhlasan, memanfaatkan waktu dengan baik, serta tidak menyombongkan perbuatannya. Manusia juga harus menyadari keterbatasan dirinya dan selalu berharap kepada karunia serta rahmat Allah Swt. Sebab, nilai suatu amal tidak hanya dilihat dari banyaknya perbuatan yang dilakukan, tetapi juga dari keimanan, keikhlasan, dan kesesuaiannya dengan apa yang diridai Allah.



