
Kajian Tafsir : “Memaknai Istiqamah, Islah, dan Tawakal melalui Surah Hud Ayat 113–123”
Halaqah Kajian Tafsir dengan pembahasan kitab Shafwah al-Tafasir, yang merupakan karya tafsir yang menghimpun dan merangkum penjelasan dari berbagai kitab tafsir terdahulu, dilaksanakan pada Jumat, 18 September 2026 ba’da Ashar. Kegiatan yang bertempat di Masjid Abdurrahman Ismail ini dibimbing oleh al-Ustadz Dzikri Nirwana dan diikuti oleh mahasiswa Program Khusus Ulama (PKU) serta Program Khusus Perbandingan Mazhab.
Halaqah Tafsir dilaksanakan dengan mekanisme penyampaian materi yang kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Pada pertemuan kali ini, materi disampaikan oleh Rahmatul Jannah dengan Khairiyah sebagai moderator. Pertemuan tafsir pada tahun ajaran ini diawali dengan pembahasan Surah Hud ayat 113 hingga ayat 123, yang merupakan bagian akhir dari Surah Hud.
Pembahasan ayat-ayat tersebut menguraikan sejumlah pesan penting mengenai keteguhan dalam menjalankan perintah Allah, menjauhi kezaliman, serta menjaga konsistensi dalam melakukan kebaikan. Ayat 113 memberikan peringatan agar orang-orang beriman tidak condong kepada orang-orang yang zalim. Larangan tersebut menunjukkan bahwa sikap terhadap kezaliman tidak berhenti pada menghindari perbuatan zalim, tetapi juga mencakup kehati-hatian agar tidak memberikan dukungan atau kecenderungan kepada tindakan yang bertentangan dengan nilai keadilan.
Pembahasan kemudian berlanjut pada ayat 114–115 yang menekankan pentingnya mendirikan salat, memperbanyak kebaikan, dan bersabar. Kebaikan disebut sebagai sesuatu yang dapat menghapus keburukan, sementara kesabaran menjadi bagian penting dalam mempertahankan amal kebajikan. Rangkaian ayat ini memperlihatkan bahwa keteguhan seorang Muslim perlu diwujudkan melalui ibadah dan perilaku yang dilakukan secara konsisten.Pada ayat 116–117, pembahasan diarahkan pada persoalan fasad dan islah. Allah menyinggung umat-umat terdahulu dan mempertanyakan keberadaan orang-orang yang memiliki keutamaan untuk mencegah kerusakan di muka bumi. Sebaliknya, Allah menyebut orang-orang yang melakukan perbaikan sebagai pihak yang memiliki peran dalam menjaga keberlangsungan kehidupan masyarakat. Ayat ini memberikan perhatian pada pentingnya keberadaan individu maupun kelompok yang memiliki kepedulian untuk mencegah kerusakan dan menghadirkan perbaikan.Ayat 118–119 kemudian menjelaskan mengenai perbedaan yang terjadi di antara manusia. Allah menerangkan bahwa manusia senantiasa berada dalam keadaan berbeda, sementara rahmat Allah menjadi bagian penting bagi orang-orang yang berada di jalan yang benar.
Pembahasan ini menunjukkan bahwa keberagaman dan perbedaan merupakan bagian dari kehidupan manusia, tetapi perbedaan tersebut tetap perlu dihadapi dengan orientasi kepada nilai-nilai yang diridai Allah.Selanjutnya, ayat 120 menjelaskan bahwa kisah-kisah para rasul yang disampaikan dalam Al-Qur’an berfungsi untuk meneguhkan hati Nabi Muhammad ﷺ. Kisah tersebut mengandung kebenaran, nasihat, dan peringatan bagi orang-orang beriman. Ayat 121–122 kemudian menggambarkan keteguhan sikap dalam menghadapi orang-orang yang tidak beriman, sedangkan ayat 123 menjadi penutup Surah Hud dengan penegasan bahwa perkara gaib di langit dan bumi merupakan milik Allah dan seluruh urusan akan kembali kepada-Nya. Karena itu, manusia diperintahkan untuk beribadah kepada Allah dan bertawakal kepada-Nya, sembari tetap menyadari bahwa seluruh amal manusia berada dalam pengetahuan Allah.
Rangkaian pembahasan Surah Hud ayat 113–123 memberikan pemahaman bahwa keteguhan dalam beragama tidak cukup diwujudkan melalui keyakinan, tetapi perlu diterjemahkan dalam bentuk ibadah, kesabaran, keberpihakan kepada kebaikan, serta upaya mencegah kerusakan dan menghadirkan perbaikan.
Sementara itu, tawakal pada penutup surah menegaskan bahwa setelah manusia menjalankan tanggung jawabnya, hasil akhirnya tetap dikembalikan kepada Allah. Melalui halaqah ini, para peserta diharapkan dapat memahami kandungan ayat secara lebih mendalam sekaligus merefleksikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari


